“Orang yang melewati satu hari dalam hidupnya tanpa ada suatu hak yang ia
tunaikan, atau fardhu yang ia lakukan, atau kemulian yang ia wariskan, atau
ilmu yang ia dapatkan. Maka ia telah durhaka terhadap harinya dan menganiaya
terhadap dirinya.”
(Dr.Yusuf Qaradhawi)
Mengutip kata-kata DR. Aidh Abdullah
Al-Qarni dalam bukunya ‘Belajarlah dari Alam dan Zaman.’ Kata beliau “untuk
bisa berkarya dalam kehidupan ini ialah kalau anda memiliki posisi yang
strategis di dunia.
Anda harus menempati nomor atau angka
yang punya nilai, bukan yang kosong melompong. Ini artinya, sebisa-bisanya anda
harus ikut ambil bagian dalam membangun dan memberi, demi meringankan beban
berat umat.
Sesungguhnya seekor lebah yang talah mati
harus dibuang dari luar sarangnya, karena ia sudah tidak ada nilainya sama
sekali. Pohon yang layu harus dihilangkan dari taman, karena sudah tidak ada
gunanya sama sekali. Bagi seseorang yang tidak mau memberi, berproduksi, dan
beramal, ia tidak akan memperoleh balasan sama sekali.
Bagi seorang pelajar yang enggan belajar
tanpa ada alasan, tetapi memilih duduk santai bersama ibunya di rumah, ia akan
menerima akibat yang menyakitkan berupa kegagalan studi yang menyedihkan.
Seorang karyawan yang lebih mengutamakan
tidur daripada bekerja, ia akan dibentak oleh majikannya. Dan seorang ulama
yang sibuk mengurus diri sendiri saja sehingga tidak mau memberikan manfaat
kepada umat, ia akan dicatat sebagai orang yang telah mengabaikan amanat dan
gagal dalam memberikan teladan.”
Penuturan Aid Al-Qarni di atas menuntut
agar setiap diri bergerak melahirkan karya tidak dengan hanya berdiam diri
melewatkan setiap waktu dan memontum yang ada atau menikmati hidup dengan
bersantai ria tanpa ingin bekerja melahirkan karya nyata dalam kehidupan.
Ibnul Qayyim mengingatkan “barang siapa
bersampan dengan kemalasan maka ia akan tenggelam bersamanya.” hidup
bermalas-malasan, menyia-nyiakan waktu, bermasa bodoh atau hidup tanpa visi
padahal usia masih muda, masih sangat memungkinkan bekerja melahirkan karya,
menjadikan kita selayaknya pohon yang gugur sebelum berbuah sungguh tiada
berguna.
Kebiasaan hidup berpangku tangan dan
apatis mencerminkan kekurangpekaan kita terhadap kondisi kehidupan,
kekurangpandaian kita dalam menyikapi hidup dan memahami hakikat diri, serta
menandakan ketidakmampuan kita dalam menangkap sinyal-sinyal kesuksesan dalam
hidup. Hidup ini menuntut sebuah karya yang berawal dari pemahaman tentang
hakikat dan tujuan kehidupan sehingga darinya melahirkan prinsip, prinsip
memunculkan gagasan, gagasan merealisasikan tindakan, dan dari tindakan
membuahkan hasil (KARYA).
Salah satu yang membedakan kita dengan
orang lain ialah karya yang kita buat, ianya juga merupakan salah satu poin
penilaian produktif tidaknya hidup kita, terampil tidaknya kita, serta berguna
tidaknya diri kita. Ibaratnya pelukis, ia dapat dinilai dan dipercaya
sebagai seorang pelukis jika ia memiliki lukisan yang dapat dilihat. Begitu pun
pencipta kehidupan, dikatakan Maha Pencipta karena memiliki ciptaan. Dan
seorang hamba tak akan dikatakan sebagai hamba ketika ia tidak menghambakan
dirinya sepenuh jiwa dan setulus hatinya. Maka karya itu sangat penting, ianya
dapat menjadi bukti akan potensi yang telah dianugerahkan kepada kita dan
sebagai eksistensi diri.
Selayaknya penulis-penulis terdahulu yang
melahirkan karya abadi dan tak lekang oleh waktu, tak terkubur oleh masa, serta
tak terlupakan dalam catatan sejarah dan memori hingga detik ini.
Sebut saja Bukhari-Muslim beserta perawih
hadits lainnya (dengan hadits-hadits shahinya), ke empat imam mazhab (dengan
kitab fiqihnya), Ibnu Taimiyah (degan gagasan-gagasannya yang jitu), Ibnul
Qayyim (dengan kitabnya yang sarat dengan ilmu dan hikmah), Imam Hasan Al Banna
(dengan risalahnya;Majmu’atur Rasail, yang mampu menanamkan kembali
nilai-nilai islam yang komprehensif), Sayyid kutub (dengan kitabnya; fii
zhilalil qur’an, yang banyak dijadikan rujukan hingga hari ini),
dan masih banyak penulis islam lainnya.
Kata seorang penulis; “jika engkau ingin
hidup selamanya maka…menulislah.” Faktanya memang bahwa seorang penulis walau
ia telah tiada ia akan tetap selalu dikenang dan terasa selalu ada karena
tulisannya. Itulah salah satu contoh karya yang dapat memuliakan hidup,
menaburkan hikmah, menanamkan benih kebaikan, dan memberikan kontribusi bagi
umat.
Setiap kita bisa berkarya, karena setiap
kita memiliki potensi yang luar biasa hanya saja tidak semua di antara kita
mampu menemukan, memahami, mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi yang
dimiliki dalam bentuk karya nyata. Ada begitu banyak yang merindukan karya
kita, bukan cuma diri, keluarga, orang lain, umat, bahkan terlebih agama dan
negeri ini begitu rindu akan lahirnya karya-karya kita. Maka hiduplah dengan
karya, dengan begitu terasa bergunalah hidup kita. Dan dengan karya, kita dapat
mengubah hidup kita menjadi lebih baik dan lebih bermakna.
Potensi tanpa karya maka tiadalah
berguna, sama saja halnya dengan ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah
tidaklah terdapat manfaat padanya. Bukankah yang telah menerangi gelap malam
seantero dunia hingga hari ini adalah karya? Karya monumental dari seorang yang
di keluarkan dari sekolahnya karena dianggap bodoh oleh gurunya, namun ia telah
mampu menemukan, memahami, dan merealisasikan potensinya dalam sebuah karya
berupa ‘bola lampu’ ialah Thomas Alva Edison yang lama telah tiada namun
namanya tetap abadi menjadi pembicaraan hingga saat ini.
Terlebih lagi ketika kita membicarakan
dan mencoba belajar dari karya sang ‘idola’ dengan karyanya di seluruh aspek
kehidupan, mampu memanusiakan manusia, mempersaudarakan di antara kita satu
sama lain, memuliakan kita dari umat-umat terdahulu, dan telah mengeluarkan
kita dari kegelapan menuju cahaya.
Ialah rasulullah yang tiada manusia
setara karyanya, tiadalah yang menyamai penyebutan namanya di setiap waktu,
tiada semulia akhlaknya, tiada sekokoh dan sesempurna imannya, tiada setaat
ketaatannya, tiada melebihi kecintaannya, dan yang paling istimewa tiada
satupun manusia yang akan mendahuluinya masuk surga. ‘subhanallah’. Maka
dengannya, hiduplah dengan karya sebagai wujud rasa syukur kita terhadap
potensi yang diberikan.
By: Wendy el Jufri
kenapa blog ini sungguh polos,,, tak ad warna...
BalasHapus