Minggu, 30 September 2012

"Hidup Dengan Karya"


“Orang yang melewati satu hari dalam hidupnya tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan, atau fardhu yang ia lakukan, atau kemulian yang ia wariskan, atau ilmu yang ia dapatkan. Maka ia telah durhaka terhadap harinya dan menganiaya terhadap dirinya.”
(Dr.Yusuf Qaradhawi)

Mengutip kata-kata DR. Aidh Abdullah Al-Qarni dalam bukunya ‘Belajarlah dari Alam dan Zaman.’ Kata beliau “untuk bisa berkarya dalam kehidupan ini ialah kalau anda memiliki posisi yang strategis di dunia.

Anda harus menempati nomor atau angka yang punya nilai, bukan yang kosong melompong. Ini artinya, sebisa-bisanya anda harus ikut ambil bagian dalam membangun dan memberi, demi meringankan beban berat umat.

Sesungguhnya seekor lebah yang talah mati harus dibuang dari luar sarangnya, karena ia sudah tidak ada nilainya sama sekali. Pohon yang layu harus dihilangkan dari taman, karena sudah tidak ada gunanya sama sekali. Bagi seseorang yang tidak mau memberi, berproduksi, dan beramal, ia tidak akan memperoleh balasan sama sekali.

Bagi seorang pelajar yang enggan belajar tanpa ada alasan, tetapi memilih duduk santai bersama ibunya di rumah, ia akan menerima akibat yang menyakitkan berupa kegagalan studi yang menyedihkan.

Seorang karyawan yang lebih mengutamakan tidur daripada bekerja, ia akan dibentak oleh majikannya. Dan seorang ulama yang sibuk mengurus diri sendiri saja sehingga tidak mau memberikan manfaat kepada umat, ia akan dicatat sebagai orang yang telah mengabaikan amanat dan gagal dalam memberikan teladan.”

Penuturan Aid Al-Qarni di atas menuntut agar setiap diri bergerak melahirkan karya tidak dengan hanya berdiam diri melewatkan setiap waktu dan memontum yang ada atau menikmati hidup dengan bersantai ria tanpa ingin bekerja melahirkan karya nyata dalam kehidupan.

Ibnul Qayyim mengingatkan “barang siapa bersampan dengan kemalasan maka ia akan tenggelam bersamanya.” hidup bermalas-malasan, menyia-nyiakan waktu, bermasa bodoh atau hidup tanpa visi padahal usia masih muda, masih sangat memungkinkan bekerja melahirkan karya, menjadikan kita selayaknya pohon yang gugur sebelum berbuah sungguh tiada berguna.

Kebiasaan hidup berpangku tangan dan apatis mencerminkan kekurangpekaan kita terhadap kondisi kehidupan, kekurangpandaian kita dalam menyikapi hidup dan memahami hakikat diri, serta menandakan ketidakmampuan kita dalam menangkap sinyal-sinyal kesuksesan dalam hidup. Hidup ini menuntut sebuah karya yang berawal dari pemahaman tentang hakikat dan tujuan kehidupan sehingga darinya melahirkan prinsip, prinsip memunculkan gagasan, gagasan merealisasikan tindakan, dan dari tindakan membuahkan hasil (KARYA).

Salah satu yang membedakan kita dengan orang lain ialah karya yang kita buat, ianya juga merupakan salah satu poin penilaian produktif tidaknya hidup kita, terampil tidaknya kita, serta berguna tidaknya diri kita. Ibaratnya pelukis, ia  dapat dinilai dan dipercaya sebagai seorang pelukis jika ia memiliki lukisan yang dapat dilihat. Begitu pun pencipta kehidupan, dikatakan Maha Pencipta karena memiliki ciptaan. Dan seorang hamba tak akan dikatakan sebagai hamba ketika ia tidak menghambakan dirinya sepenuh jiwa dan setulus hatinya. Maka karya itu sangat penting, ianya dapat menjadi bukti akan potensi yang telah dianugerahkan kepada kita dan sebagai eksistensi diri.

Selayaknya penulis-penulis terdahulu yang melahirkan karya abadi dan tak lekang oleh waktu, tak terkubur oleh masa, serta tak terlupakan dalam catatan sejarah dan memori hingga detik ini.
Sebut saja Bukhari-Muslim beserta perawih hadits lainnya (dengan hadits-hadits shahinya), ke empat imam mazhab (dengan kitab fiqihnya), Ibnu Taimiyah (degan gagasan-gagasannya yang jitu), Ibnul Qayyim (dengan kitabnya yang sarat dengan ilmu dan hikmah), Imam Hasan Al Banna (dengan risalahnya;Majmu’atur Rasail, yang mampu menanamkan kembali nilai-nilai islam yang komprehensif), Sayyid kutub (dengan kitabnya; fii zhilalil qur’an,  yang banyak dijadikan rujukan hingga hari ini), dan masih banyak penulis islam lainnya.  

Kata seorang penulis; “jika engkau ingin hidup selamanya maka…menulislah.” Faktanya memang bahwa seorang penulis walau ia telah tiada ia akan tetap selalu dikenang dan terasa selalu ada karena tulisannya. Itulah salah satu contoh karya yang dapat memuliakan hidup, menaburkan hikmah, menanamkan benih kebaikan, dan memberikan kontribusi bagi umat.

Setiap kita bisa berkarya, karena setiap kita memiliki potensi yang luar biasa hanya saja tidak semua di antara kita mampu menemukan, memahami, mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi yang dimiliki dalam bentuk karya nyata. Ada begitu banyak yang merindukan karya kita, bukan cuma diri, keluarga, orang lain, umat, bahkan terlebih agama dan negeri ini begitu rindu akan lahirnya karya-karya kita. Maka hiduplah dengan karya, dengan begitu terasa bergunalah hidup kita. Dan dengan karya, kita dapat mengubah hidup kita menjadi lebih baik dan lebih bermakna.

Potensi tanpa karya maka tiadalah berguna, sama saja halnya dengan ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah tidaklah terdapat manfaat padanya. Bukankah yang telah menerangi gelap malam seantero dunia hingga hari ini adalah karya? Karya monumental dari seorang yang di keluarkan dari sekolahnya karena dianggap bodoh oleh gurunya, namun ia telah mampu menemukan, memahami, dan merealisasikan potensinya dalam sebuah karya berupa ‘bola lampu’ ialah Thomas Alva Edison yang lama telah tiada namun namanya tetap abadi menjadi pembicaraan hingga saat ini.

Terlebih lagi ketika kita membicarakan dan mencoba belajar dari karya sang ‘idola’ dengan karyanya di seluruh aspek kehidupan, mampu memanusiakan manusia, mempersaudarakan di antara kita satu sama lain, memuliakan kita dari umat-umat terdahulu, dan telah mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya.

Ialah rasulullah yang tiada manusia setara karyanya, tiadalah yang menyamai penyebutan namanya di setiap waktu, tiada semulia akhlaknya, tiada sekokoh dan sesempurna imannya, tiada setaat ketaatannya, tiada melebihi kecintaannya, dan yang paling istimewa tiada satupun manusia yang akan mendahuluinya masuk surga. ‘subhanallah’. Maka dengannya, hiduplah dengan karya sebagai wujud rasa syukur kita terhadap potensi yang diberikan.

By: Wendy el Jufri

1 komentar:

  • Popular
  • Categories
  • Archives