Kegagalan merupakan bagian dari kesuksesan, gagal dan sukses
selalu beriringan. Sulit untuk memisahkan kegagalan dengan kesuksesan karena
tanpa kegagalan kesuksesan tiada berarti, seni dari kesuksesan terletak pada
seberapa jeli menghadapi kegagalan. Demikian pula tanpa kesuksesan kegagalan
hanyalah berupa kekalahan, nikmatnya kegagalan berada pada kesuksesan yang
diraih. Dan nuansa kegagalan menjadi kenangan saat meraih kesuksesan.
Jika kegagalan saling melengkapi dengan kesuksesan maka
kegagalan tidaklah menjadi kekakalahan dan kesuksesan akan menjadi kemenangan.
Mereka yang takut gagal berarti mereka telah takut untuk sukses, karena mereka
yang mau sukses akan berani untuk menghadapi kegagalan. Jika hanya ingin sukses
tapi menepikan kegagalan akan sulit menerima kenyataan dan sulit memulai
kesuksesan, kesuksesan dibangun atas dasar kepercayaan. Percaya bahwa selain
kesuksesan ada kegagalan, setelah kegagalan ada kesuksesan, kegagalan tidak
selamanya menjadi gagal dan kesuksesan tidak selamanya menjadi sukses.
Kegagalan dan kesuksesan ibarat langkah kaki yang saling
bergantian, setelah kaki kanan di depan berikutnya akan menyusul kaki kiri.
Demikian seterusnya hingga kaki tidak lagi melangkah, tapi selama kaki terus
melangkah maka selama itu pula akan saling bergantian dan beriringan. Seperti
itu pulah dengan kesuksesan dan kegagalan, jika hari ini kita gagal esok hari
boleh jadi menuai kesuksesan dan jika hari ini kita sukses barang tentu hari
esok akan menjumpai kegagalan. Hal ini akan terus terjadi selama nafas kita
masih membersamai raga hingga menuai peristirahatan yang panjang.
Sekarang kita telah paham bahwa kesuksesan dan kegagalan
senantiasa melingkupi kehidupan, menemani aktivitas dan menyertai setiap
karya-karya yang kita buat. Tinggal bagaimana menjadikan kegagalan berbuah
kesuksesan, kesuksesan berbuah keberkahan, hingga akhirnya berbuah kebahagiaan
dan mengelola serta memulai kesuksesan dengan kepercayaan, keberanian dan
kemauan yang disertai dengan kesungguhan.
Kita tidak akan pernah sampai pada kesuksesan bila tidak berani
memulai, kegagalan akan terus berlanjut bila tidak mau menerima kenyataan akan
adanya kegagalan, bila berhenti untuk mencoba dan mengulangi terus-menerus
dengan memadukan cara lama dengan cara-cara baru dari pengalaman yang di dapat
dalam kegagalan.
Sungguh menarik kisah Thomas Alva Edison dalam meraih kesuksesan
untuk dijadikan pelajaran, bagaimana seorang Thomas berpikir untuk sukses dan
belajar dari kegagalan di dalam menemukan karya yang monumental dan sangat
dirasakan sekarang manfaatnya oleh seluruh dunia dengan temuannya yang berupa
‘bola lampu’. Padahal saat kecilnya ia gagal dari bangku sekolah formal,
dikeluarkan dari sekolah karena dianggap sangat bodoh oleh gurunya. Akan tetapi
seorang ibu dari Thomas berpandangan lain bahwa sebenarnya anaknya tidaklah
bodoh dan ia akan membuktikannya serta mendidiknya.
Ternyata benar apa yang dipahami oleh ibu Thomas bahwa Thomas
tidaklah bodoh, terbukti Thomas tumbuh dewasa dengan cerdas, kreatif dan penuh
semangat. Thomas meraih kesuksesan dengan ribuan kali gagal dalam percobaannya
di bangku sekolah non formal, namun yang paling menarik dicermati dari kisahnya
ketika ia mengatakan “sebenarnya saya tidaklah gagal hanya saja saya telah
menemukan 9.998 cara untuk menemukan bola lampu.”
Di sini kita belajar bagaimana Thomas memahami kegagalan,
belajar dan menjadikan kegagalan itu sebagai cara untuk meraih kesuksesan. Dia
menjadikan kegagalan pertama sebagai cara menggapai kegagalan kedua, ketiga
dan seterusnya hingga kegagalan ke-9.998, ia tidak pernah menyerah
mempelajari kegagalan demi kegagalannya hingga meraih kesuksesan di angka
10.000 kurang satu dari percobaan yang dilakukan secara continyu atas dasar
kepercayaannya bahwa setelah ada kegagalan pasti ada kesuksesan.
Dari kisah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa kegagalan
tidaklah untuk membuat kita menyerah, tapi kegagalan dijadikan sebagai motivasi
yang membangkitkan semangat dan menjadi dasar dalam menemukan cara-cara baru
untuk meraih kesuksesan. Maka modal dasarnya adalah kepercayaan, keberanian,
kemauan, kesungguhan dan semangat yang membara serta visi yang jelas. Baru
kemudian mempelajari dan memahami kegagalan itu agar berbuah kesuksesan.
“...Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan orang kafir.” (QS.
Yusuf: 87).
Wendy
el Jufri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar